Sunday, March 4, 2007

kami memulainya dari sini

KAMI MEMULAINYA DARI SINI

Lantunan ayat-ayat Al-Quran kembali terdengar dari balik-balik pintu kamar kami, hari ini kami mulai dengan menantang dinginnya subuh, dan melawan rasa kantuk yang membuat jutaan orang terkalahkan dalam lelap. Ya, itulah kami, kami bukanlah manusia-manusia khusus, kami bukanlah manusia-manusia luar biasa. Kami hanyalah manusia biasa, sama seperti yang lainnya, tapi kami punya cita-cita, kami punya impian, dan itu sedang kami mulai dari sini, di tempat di mana kami berlindung dari pengaruh dunia yang sepertinya memainkan dominasi pada hampir kehidupan setiap manusia. Kami sedang memulainya dari sini, dan memulainya dengan sesuatu yang dulu telah mengubah bangsa-bangsa Jahil, menjadi bangsa-bangsa yang mengusai peradaban, ya, kami memulainya dengan Islam.

Masih terngiang dalam, telinga-telinga kami, sewaktu kami masih kecil, tak henti-hentinya orang tua kami, menceritakan tentang dunia kepada kami, hingga akhirnya ia sampaikan harapan-harapannya kepada kami, mimpi-mimpi mereka tentang kami. Mungkin hampir sama satu dengan yang lainnya, harapan orang tua kami tak lain agar kami bisa menjadi ank-anak yang berbakti, agar kami tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas, berprestasi, dan nantinya kami bisa menjadi orang yang berguna. Itulah mimpi sebagian besar para orang tua di bumi ini.

Masa itu telah lama berlalu, kami telah melewati dan merasakan cukup banyak hal yang telah membuat kami bisa sedikit menggambarkan seperti apa sebenarnya dunia yang sedang kami tinggali ini. Kami mencoba realistis tentang keadaan diri kami, tentang keadaan bangsa kami, sedikit banyak mata kami mulai terbuka tentang apa yang ada di hadapan kami, kerasnya kehidupan, licik dan piciknya manusia-manusia yang telah diperbudak hawa nafsunya. Kami punya mimpi besar tentang semua itu, suatu hari nanti kami akan membuatnya jadi lebih baik, dan jadi lebih baik lagi.

Namun, mimpi itu ibarat gunung yang berdiri angkuh di depan mata kami, menantang kami apakah kami bisa menaklukannya atau tidak. Karena memang pada akhirnya tak semuanya akan berhasil menaklukan mimpi-mimpi yang telah mereka buat sendiri, ada orang-orang yang hanya menikmati keindahannya, dan hanyut akan perasaan yang ia rasakan, ada pula orang-orang yang hanya sibuk berputar-putar di kaki gunung tanpa mencoba tuk mendakinya, karena merasakan resiko yang terlalu besar ketika ia harus mendakinya. Lalu kami, kami tahu betapa beratnya resiko yang akan kami hadapi, kami tahu seberapa lelah yang akan kami rasakan ketika kami memutuskan untuk mendakinya.

Pendakian memang tak pernah mudah, pertama yang kami lakukan adalah meyakinkan diri kami semua bahwasanya, apa yang kami lakukan ini bukanlah hal yang sia-sia, dan bahwasanya, seberapa jauh pun jarak yang kami tempuh, seberapa berat rasa yang kami hadapi, tapi pasti suatu saat nanti kami akan tiba di puncak pendakian kami. Kami mencoba untuk meyakinkan diri kami bahwasanya segala hambatan yang akan kami temui sepanjang jalan, tak lain merupakan proses belajar yang akan membuat kami makin matang dalam mengahadapi tantangan selanjutnya.

Itulah kehidupan kami, dengan mimpi-mimpi yang membentang dihadapan kami, mimpi-mimpi besar tentang perubahan yang lebih baik untuk bangsa ini, tentang perubahan yang lebih baik bagi umat ini. Dan kami memulainya dengan Islam, dengan meyakini bahwasanya apa yang kami lakukan ini bukanlah hal-yang sia-sia, karena ALLAH akan selalu menilai dan memperhitungkan sekecil apapun yang dilakukan manusia. Islam mengajarkan kami tentang mimpi orang tua kami yang dulu seringkali diperdengarkannya kepada kami, Islam mengajarkan tentang bagimana kami harus berbakti kepada kedua orang tua kami, Islam mengajarkan kami bagaimana kami menjadi manusia-manusia yang cerdas, Islam mengajarkan bagaimana kami melakukan yang terbaik dalam setiap jengkal kehidupan kami, Islam mengajarkan kami untuk selalu produktif dalam menghasilkan prestasi,dan Islam mengajarkan kami bagaimana kami menjadi orang yang menebarkan manfaat sebanyak mungkin kepada manusia lainnya, tapi yang terpenting Islam mengajarkan kami untuk mencapai itu semua bukan untuk pemuasan hawa nafsu, tapi semata-mata itu adalah bentuk pembuktian kami pada ALLAH pencipta alam semesta, bahwasanya kami diciptakan di dunia ini membawa misi penting untuk membebaskan manusia dari segala bentuk kerendahan duniawi yang didominasi oleh hawa nafsu yang seringkali menyesatkan manusia.

Inilah kami, ksatria-ksatria baru yang siap membuat perubahan di atas bumi Allah ini, memang semua ini bukanlah tugas yang sederhana, tapi kami yakin Allah akan terus bersama kami, ketika kami melangkah dalam jalan-Nya. Bukan kesombongan yang ingin kami cari, tapi kami pula tak akan pernah putus asa, karena setiap desah kami adalah harapan baru demi terciptanya perubahan ke arah yang lebih baik. Sekarang, dan kami memulainya dari sini, saat ini juga.

No comments: