Sunday, March 4, 2007

MENJADI CERMIN YANG TAK RETAK

MENJADI CERMIN YANG TAK RETAK

Manusia seringkali tidak cukup percaya diri ketika belum melihat penampilannya yang memang sudah meyakinkan pada sebuah cermin. Cermin selalu menunjukkan bagaimana keadaan dirinya, apakah sudah sempurna atau belum, ketika memang sudah mantap, tentu akan menambah keyakinan dan kepercayaan dirinya, tapi jika memang belum mantap, paling tidak ia akan tahu mana yang harus diperbaiki lagi agar terlihat meyakinkan. Ya, itulah cermin yang selalu jujur, yang selalu apa adanya. Ia akan memperlihatkan apa yang memang benar-benar ada di hadapannya. Jika yang berada di hadapannya itu memang baik, maka ia akan memperlihatkan betapa baiknya itu, tanpa menambahkan ataupun menguranginya. Dan jika sesuatu yang di berada di hadapannya itu masih kurang baik, maka ia akan menunjukkan di mana letak kekurangannya, dan sekali lagi tanpa mengurangi ataupun melebihkannya.

Kita, sebagai seorang manusia tak akan pernah hidup kecuali harus berinterkasi dengan orang lain, berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita. Dalam interaksi tentunya kita akan menemukan berbagia jenis karakter manusia, kita akan menemukan berbagai sifat-sifat manusia yang berbeda satu sama lain, ya, karena setiap manusia memang diciptakan spesial, mereka punya karakter yang berbeda,mereka punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan dengan interaksi itu justru akan membuat kekurangan dan kelebihan dari setiap orang akan membuat sebuah bangunan yang saling menguatkan.

Mengapa hal itu bisa terjadi ? Sadar atau tidak, manusia sebenarnya ibarat sebuah cermin bagi manusia lainnya. Ya, karena dalam setiap interaksi, kita terbiasa untuk memberikan penilaian kepada orang lain. Kita akan menilai bagaimana sikap orang tersebut, kita akan menilai bagaimana kepribadiannya, kita akan menilai apa kelebihan dan kekurangannya. Selalu seperti itu, memang terkadang kita melakukan penilaian begitu subjektif, apa yang dimiliki orang lain selalu kita nilai dari sudut pandang diri kita, tapi itu merupakan proses penting yang akan menanyakan pada diri kita, bagaimana cara untuk menghadapi orang seperti itu. Setelah itu tentu kita akan menerapkan suatu sikap tertentu dalam menghadapi orang tersebut, dan sikap kita ibarat pantulan dari cermin, kita tentu akan memperlakukan seseorang yang menurut kita baik, dengan suatu sikap yang baik pula, dan biasanya kita akan memperlakukan sesorang yang menurut kita kurang baik dengan sikap yang kurang bersahabat. Dan sikap kita itu pasti akan ditangkap oleh orang yang sedang berinteraksi kepada kita sebagai suatu cerminan bagaimana kita menilai dirinya.

Di awal kita sudah banyak belajar betapa jujurnya sebuah cermin, yang selalu memberikan penilaian sesuai dengan apa yang ada di hadapannya, selalu menunjukkan sesuatau apa adanya, tak pernah melebihkan ataupun mengurangkan. Namun, itu adalah gambaran dari sebuah cermin yang baik, dan sempurna. Coba kita bayangkan seandainya cermin yang ada di hadapan kita sudah mempunyai banyak retakan. Masihkah ia memperlihatkan sesuatu sebagaimana aslinya? Masihkah ia memperlihatkan sesuatu apa adanya? Ternyata kerusakan pada diri sebuah cermin akan berefek pada bagaimana cermin itu memberi gambaran tentang apa yang ada di hadapannya, dia tak lagi memberikan gambaran sesuai dengan keadaan aslinya, dia seolah tak lagi jujur dengan keadaan sebenarnya. Jika sesuatu yang di hadapannya itu baik, maka akan terlihatlah seolah-olah itu mempunyai cacat, apalagi sesuatu itu tidak baik, akan seolah bertambah kekurangannya.

Ternyata tak selamanya cermin akan jujur, dia akan memberikan penilaian tak jujur ketika memang dalam dirinya banyak kecacatan, karena memang di dalam dirinya banyak kekurangan. Kawan, merenunglah sejenak, seringkali kita mudah sekali melihat kekurangan orang lain, seringkali kita mudah meniali orang lain dengan penilaian-penilaian buruk, bukankah itu bisa saja terjadi karena sesungguhnya betapa banyak kelemahan dalam diri kita, sehingga apapun yang orang lain lakukan seolah-olah buruk di mata kita. Bisa saja ternyata kita menjadi sebuah cermin yang retak bagi orang lain. Keretakan pada diri kita yang justru membuat apa yang ada di hadapan kita terlihat begitu buruk.

Kawanku, sekarang coba kita tanyakan pada diri kita, sudah menjadi cermin macam apakah diri kita ini. Sudahakah kita jadi cermin yang sempurna, yang selalu jujur, yang selalu apa adanya, yang tak pernah melebihkan, ataupun mengurangkan, yang selalu memberikan penilaian dengan objektif. Atau, selama ini kita hanya menjadi cermin yang retak, yang denagan keretakan dalam diri kita justru malah membuat semua yang ada di hadapan kita menjadi retak, menjadi rusak. Menjadi sesuatu ayng penting bagi diri kita, sebagai sebuah cermin bagi orang lain, untuk senantiasa mengintrospeksi diri, untuk melihat keadaan diri sendiri sebelum kita menilai orang-orang yang ada di sekitar kita. Jangan samapai kekurangan-kekurangan yang begitu banyak terdapat dalam diri kita justru membuat orang lain selalu kurang di mata kita, dan kita justru tak menyadari betapa lebih banyak lagi kekurangan dalam diri kita ini. Dari sinilah kemudian lahir kesombongan, yang selalu merendahkan orang lain, dan selalu menutup diri dari kebenaran.

Marilah kawanku, kita jadikan diri kita benar-benar menjadi cermin yang sebenar-benarnya cermin, yang selalu jujur, yang selalu apap adanya, yang tak pernah melebih-lebihkan, dan yang tak pernah mengurang-ngurangkan. Sehingga orang-orang di sekitar kita pun akan senang karena ia dapat melihat gambaran dirinya dari penilaian yang kita lakukan. Karena dengan mlakukan itu kita telah memberikan manfaat pada orang di sekitar kita, kita telah membantu mereka untuk memperbaiki diri mereka.

No comments: