Sunday, March 4, 2007

thx and sorry

Ada dua kata yang mungkin sering sekali kita dengar dalam kehidupan kita sehari-hari,,,kata-kata yang sangat enteng untuk dikatakan tapi terkadang memang begitu berat untuk diucapkan…ya kedua kata itu adalah “terima kasih” dan “maaf”…

Memang tak ada manusia yang sama di dunia ini, namun ada hal-hal umum yang bisa digeneralisasikan dalam kehidupan kita, salah satunya adalah masalah sikap…ya, dari kecil mungkin kita sudah diajarkan tentang cara bersikap yang baik, yang salah satunya adalah dengan mengucapkan terima kasih ketika kita mendapatkan sesuatu dari orang lain,,,mungkin masih segar di ingatan kita bagaimana orang tua kita senantiasa mengingatkan kita ketika kita lupa mengatakan terima kasih ketika orang memberikan sesuatu kepada kita…

Selain itu, kita juga diajarkan untuk mengatakan maaf pada hal-hal yang kita lakukan dan mungkin kurang berkenan di hati orang lain… dan berkali-kali pun orang tua kita mengingatkan agar kita mau dan berani mengatkan maaf…

Namun, seiring berjalannya waktu, rasanya kedua kata itu semakin sulit untuk diucapkan oleh manusia, ada suatu realita yang tak dapat dipungkiri, suatu ketika sebuah stasiun televisi menayangkan sebuah reality show dimana akan dicari orang yang mau mengucapkan terima kasih di sebuah SPBU, setelah begitu lama menunggu, dan setelah beratus-ratus orang dilayani oleh sang petugas, barulah akhirnya ada seseorang yang mau berkata terima kasih setelah dilayani oleh sang petugas…ya, itu hanya satu dari begitu banyak potret yang mencerminkan bahwasanya mengatakan terima kasih adalah begitu sulit… Entah apa sebabnya,,, atau apakah kata-kata terima kasih sudah dianggap suatu yang klise, hanya suatu basa-basi…

Demikian pula kata maaf, walaupun untaian kata yang begitu pendek, namun kata ini lebih sulit lagi untuk diucapkan, sangat-sangat berat, terlebih lagi ketika rasa ego dalam diri manusia itu begitu besar… Seringkali kata maaf dianggap sebagai suatu kekalahan, ataupun kata maaf seringkali dianggap sebagai suatu penurunan harga diri…

Ini memang suatu hal yang amat kecil, namun ini menggambarkan hal yang begitu besar, suatu hal yang sering kita sebut sebagai sikap, karakter,ataupun kepribadian, memang kita tak akan ditangkap polisi hanya karena tak mengucapkan terima kasih atau maaf, namun sedikit banyak itu akan menggambarkan seperti apa kepribadian diri kita…

Dulu, begitu sering dibesar-besarkannya orang timur karena sikap dan kepribadiannya, karena sopan santunnya, karena baik tutur katanya…

Namun itu mungkin hanya bagian dari masa lalu, masa lalu yang begitu sering dikenang orang tapi begitu jarang dipraktekan..

Kawanku, kita orang timur, orang yang terkenal karena budayanya, yang terkenal karena sikap dan kepribadiannya, yang terkenal karena ramahnya, sopan tutur katanya…

Mengatakan terima kasih merupakan bagian dari usaha kita untuk menempatkan diri kita sebagai manusia yang punya kepribadian, siapapun kita mengatakan terima kasih seharusnya jadi suatu kebiasaan diri kita, bukankah itu jadi merupakan bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT, bukankah oaring yang paling bersyukur kepada Allah adalah yang paling bersyukur(berterima kasih) kepada manusia… Maukah kita dijadikan bagian dari oaring-orang yang tidak bersyukur hanya karena tidak mau mengatakan terima kasih…cobalah pada siapapun, baik kepada yang lebih tua maupun yang lebih muda tak ada salahnya kita mengucapkan terima kasih…

Demikian juga kata maaf, tak sedikit keengganan mengucapkan kata maaf harus dibayar dengan sesuatu yang amat tak terduga, nyawa misalnya, tak banyak kasus pembunuhan terjadi hanya karena si korban pernah tidak senagaja menyakiti hati si pelaku, dan enggan untuk mengatakan maaf, ataupun putusnya suatu persahabatan karena hal-hal kecil, dan ego yang begitu besar hingga sulitnya mengatakan maaf. Padahal semua itu tak harus terjadi jika ada pihak yang berjiwa besar untuk meminta maaf…Maaf sama sekali tak akan menurunkan martabat seseorang, tapi justru akan semakin menggambarkan kebesaran jiwanya, maaf sama sekali tidak berarti kekalahan, tapi justru menggambarkan kemenangan…

Marilah kawan, jangan biarkan diri kita dibatasi oleh ego yang begitu besar, yakinlah kita tak akan mungkin bisa hidup sendiri di dunia ini, berani mengatakan terima kasih dan maaf merupakan bagian dari bagaimana kita bisa membina hubungan baik dengan orang-orang di sekitar kita… Tak ada ruginya ketika kita berani mangatakan terima kasih dan maaf bahkan justru begitu banyak keuntungan yang akan kita dapatkan,,, ya cobalah katakan “terima kasih” , “maaf”… Cobalah…

kami memulainya dari sini

KAMI MEMULAINYA DARI SINI

Lantunan ayat-ayat Al-Quran kembali terdengar dari balik-balik pintu kamar kami, hari ini kami mulai dengan menantang dinginnya subuh, dan melawan rasa kantuk yang membuat jutaan orang terkalahkan dalam lelap. Ya, itulah kami, kami bukanlah manusia-manusia khusus, kami bukanlah manusia-manusia luar biasa. Kami hanyalah manusia biasa, sama seperti yang lainnya, tapi kami punya cita-cita, kami punya impian, dan itu sedang kami mulai dari sini, di tempat di mana kami berlindung dari pengaruh dunia yang sepertinya memainkan dominasi pada hampir kehidupan setiap manusia. Kami sedang memulainya dari sini, dan memulainya dengan sesuatu yang dulu telah mengubah bangsa-bangsa Jahil, menjadi bangsa-bangsa yang mengusai peradaban, ya, kami memulainya dengan Islam.

Masih terngiang dalam, telinga-telinga kami, sewaktu kami masih kecil, tak henti-hentinya orang tua kami, menceritakan tentang dunia kepada kami, hingga akhirnya ia sampaikan harapan-harapannya kepada kami, mimpi-mimpi mereka tentang kami. Mungkin hampir sama satu dengan yang lainnya, harapan orang tua kami tak lain agar kami bisa menjadi ank-anak yang berbakti, agar kami tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas, berprestasi, dan nantinya kami bisa menjadi orang yang berguna. Itulah mimpi sebagian besar para orang tua di bumi ini.

Masa itu telah lama berlalu, kami telah melewati dan merasakan cukup banyak hal yang telah membuat kami bisa sedikit menggambarkan seperti apa sebenarnya dunia yang sedang kami tinggali ini. Kami mencoba realistis tentang keadaan diri kami, tentang keadaan bangsa kami, sedikit banyak mata kami mulai terbuka tentang apa yang ada di hadapan kami, kerasnya kehidupan, licik dan piciknya manusia-manusia yang telah diperbudak hawa nafsunya. Kami punya mimpi besar tentang semua itu, suatu hari nanti kami akan membuatnya jadi lebih baik, dan jadi lebih baik lagi.

Namun, mimpi itu ibarat gunung yang berdiri angkuh di depan mata kami, menantang kami apakah kami bisa menaklukannya atau tidak. Karena memang pada akhirnya tak semuanya akan berhasil menaklukan mimpi-mimpi yang telah mereka buat sendiri, ada orang-orang yang hanya menikmati keindahannya, dan hanyut akan perasaan yang ia rasakan, ada pula orang-orang yang hanya sibuk berputar-putar di kaki gunung tanpa mencoba tuk mendakinya, karena merasakan resiko yang terlalu besar ketika ia harus mendakinya. Lalu kami, kami tahu betapa beratnya resiko yang akan kami hadapi, kami tahu seberapa lelah yang akan kami rasakan ketika kami memutuskan untuk mendakinya.

Pendakian memang tak pernah mudah, pertama yang kami lakukan adalah meyakinkan diri kami semua bahwasanya, apa yang kami lakukan ini bukanlah hal yang sia-sia, dan bahwasanya, seberapa jauh pun jarak yang kami tempuh, seberapa berat rasa yang kami hadapi, tapi pasti suatu saat nanti kami akan tiba di puncak pendakian kami. Kami mencoba untuk meyakinkan diri kami bahwasanya segala hambatan yang akan kami temui sepanjang jalan, tak lain merupakan proses belajar yang akan membuat kami makin matang dalam mengahadapi tantangan selanjutnya.

Itulah kehidupan kami, dengan mimpi-mimpi yang membentang dihadapan kami, mimpi-mimpi besar tentang perubahan yang lebih baik untuk bangsa ini, tentang perubahan yang lebih baik bagi umat ini. Dan kami memulainya dengan Islam, dengan meyakini bahwasanya apa yang kami lakukan ini bukanlah hal-yang sia-sia, karena ALLAH akan selalu menilai dan memperhitungkan sekecil apapun yang dilakukan manusia. Islam mengajarkan kami tentang mimpi orang tua kami yang dulu seringkali diperdengarkannya kepada kami, Islam mengajarkan tentang bagimana kami harus berbakti kepada kedua orang tua kami, Islam mengajarkan kami bagaimana kami menjadi manusia-manusia yang cerdas, Islam mengajarkan bagaimana kami melakukan yang terbaik dalam setiap jengkal kehidupan kami, Islam mengajarkan kami untuk selalu produktif dalam menghasilkan prestasi,dan Islam mengajarkan kami bagaimana kami menjadi orang yang menebarkan manfaat sebanyak mungkin kepada manusia lainnya, tapi yang terpenting Islam mengajarkan kami untuk mencapai itu semua bukan untuk pemuasan hawa nafsu, tapi semata-mata itu adalah bentuk pembuktian kami pada ALLAH pencipta alam semesta, bahwasanya kami diciptakan di dunia ini membawa misi penting untuk membebaskan manusia dari segala bentuk kerendahan duniawi yang didominasi oleh hawa nafsu yang seringkali menyesatkan manusia.

Inilah kami, ksatria-ksatria baru yang siap membuat perubahan di atas bumi Allah ini, memang semua ini bukanlah tugas yang sederhana, tapi kami yakin Allah akan terus bersama kami, ketika kami melangkah dalam jalan-Nya. Bukan kesombongan yang ingin kami cari, tapi kami pula tak akan pernah putus asa, karena setiap desah kami adalah harapan baru demi terciptanya perubahan ke arah yang lebih baik. Sekarang, dan kami memulainya dari sini, saat ini juga.

MENJADI CERMIN YANG TAK RETAK

MENJADI CERMIN YANG TAK RETAK

Manusia seringkali tidak cukup percaya diri ketika belum melihat penampilannya yang memang sudah meyakinkan pada sebuah cermin. Cermin selalu menunjukkan bagaimana keadaan dirinya, apakah sudah sempurna atau belum, ketika memang sudah mantap, tentu akan menambah keyakinan dan kepercayaan dirinya, tapi jika memang belum mantap, paling tidak ia akan tahu mana yang harus diperbaiki lagi agar terlihat meyakinkan. Ya, itulah cermin yang selalu jujur, yang selalu apa adanya. Ia akan memperlihatkan apa yang memang benar-benar ada di hadapannya. Jika yang berada di hadapannya itu memang baik, maka ia akan memperlihatkan betapa baiknya itu, tanpa menambahkan ataupun menguranginya. Dan jika sesuatu yang di berada di hadapannya itu masih kurang baik, maka ia akan menunjukkan di mana letak kekurangannya, dan sekali lagi tanpa mengurangi ataupun melebihkannya.

Kita, sebagai seorang manusia tak akan pernah hidup kecuali harus berinterkasi dengan orang lain, berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita. Dalam interaksi tentunya kita akan menemukan berbagia jenis karakter manusia, kita akan menemukan berbagai sifat-sifat manusia yang berbeda satu sama lain, ya, karena setiap manusia memang diciptakan spesial, mereka punya karakter yang berbeda,mereka punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan dengan interaksi itu justru akan membuat kekurangan dan kelebihan dari setiap orang akan membuat sebuah bangunan yang saling menguatkan.

Mengapa hal itu bisa terjadi ? Sadar atau tidak, manusia sebenarnya ibarat sebuah cermin bagi manusia lainnya. Ya, karena dalam setiap interaksi, kita terbiasa untuk memberikan penilaian kepada orang lain. Kita akan menilai bagaimana sikap orang tersebut, kita akan menilai bagaimana kepribadiannya, kita akan menilai apa kelebihan dan kekurangannya. Selalu seperti itu, memang terkadang kita melakukan penilaian begitu subjektif, apa yang dimiliki orang lain selalu kita nilai dari sudut pandang diri kita, tapi itu merupakan proses penting yang akan menanyakan pada diri kita, bagaimana cara untuk menghadapi orang seperti itu. Setelah itu tentu kita akan menerapkan suatu sikap tertentu dalam menghadapi orang tersebut, dan sikap kita ibarat pantulan dari cermin, kita tentu akan memperlakukan seseorang yang menurut kita baik, dengan suatu sikap yang baik pula, dan biasanya kita akan memperlakukan sesorang yang menurut kita kurang baik dengan sikap yang kurang bersahabat. Dan sikap kita itu pasti akan ditangkap oleh orang yang sedang berinteraksi kepada kita sebagai suatu cerminan bagaimana kita menilai dirinya.

Di awal kita sudah banyak belajar betapa jujurnya sebuah cermin, yang selalu memberikan penilaian sesuai dengan apa yang ada di hadapannya, selalu menunjukkan sesuatau apa adanya, tak pernah melebihkan ataupun mengurangkan. Namun, itu adalah gambaran dari sebuah cermin yang baik, dan sempurna. Coba kita bayangkan seandainya cermin yang ada di hadapan kita sudah mempunyai banyak retakan. Masihkah ia memperlihatkan sesuatu sebagaimana aslinya? Masihkah ia memperlihatkan sesuatu apa adanya? Ternyata kerusakan pada diri sebuah cermin akan berefek pada bagaimana cermin itu memberi gambaran tentang apa yang ada di hadapannya, dia tak lagi memberikan gambaran sesuai dengan keadaan aslinya, dia seolah tak lagi jujur dengan keadaan sebenarnya. Jika sesuatu yang di hadapannya itu baik, maka akan terlihatlah seolah-olah itu mempunyai cacat, apalagi sesuatu itu tidak baik, akan seolah bertambah kekurangannya.

Ternyata tak selamanya cermin akan jujur, dia akan memberikan penilaian tak jujur ketika memang dalam dirinya banyak kecacatan, karena memang di dalam dirinya banyak kekurangan. Kawan, merenunglah sejenak, seringkali kita mudah sekali melihat kekurangan orang lain, seringkali kita mudah meniali orang lain dengan penilaian-penilaian buruk, bukankah itu bisa saja terjadi karena sesungguhnya betapa banyak kelemahan dalam diri kita, sehingga apapun yang orang lain lakukan seolah-olah buruk di mata kita. Bisa saja ternyata kita menjadi sebuah cermin yang retak bagi orang lain. Keretakan pada diri kita yang justru membuat apa yang ada di hadapan kita terlihat begitu buruk.

Kawanku, sekarang coba kita tanyakan pada diri kita, sudah menjadi cermin macam apakah diri kita ini. Sudahakah kita jadi cermin yang sempurna, yang selalu jujur, yang selalu apa adanya, yang tak pernah melebihkan, ataupun mengurangkan, yang selalu memberikan penilaian dengan objektif. Atau, selama ini kita hanya menjadi cermin yang retak, yang denagan keretakan dalam diri kita justru malah membuat semua yang ada di hadapan kita menjadi retak, menjadi rusak. Menjadi sesuatu ayng penting bagi diri kita, sebagai sebuah cermin bagi orang lain, untuk senantiasa mengintrospeksi diri, untuk melihat keadaan diri sendiri sebelum kita menilai orang-orang yang ada di sekitar kita. Jangan samapai kekurangan-kekurangan yang begitu banyak terdapat dalam diri kita justru membuat orang lain selalu kurang di mata kita, dan kita justru tak menyadari betapa lebih banyak lagi kekurangan dalam diri kita ini. Dari sinilah kemudian lahir kesombongan, yang selalu merendahkan orang lain, dan selalu menutup diri dari kebenaran.

Marilah kawanku, kita jadikan diri kita benar-benar menjadi cermin yang sebenar-benarnya cermin, yang selalu jujur, yang selalu apap adanya, yang tak pernah melebih-lebihkan, dan yang tak pernah mengurang-ngurangkan. Sehingga orang-orang di sekitar kita pun akan senang karena ia dapat melihat gambaran dirinya dari penilaian yang kita lakukan. Karena dengan mlakukan itu kita telah memberikan manfaat pada orang di sekitar kita, kita telah membantu mereka untuk memperbaiki diri mereka.