Friday, February 6, 2009

Kita..Masih Lemah...

assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Akhir Desember lalu, dunia kembali dikagetkan oleh serangan Israel ke Palestina, tepatnya jalur Gaza, dari hari ke hari serangan semakin membabi buta, jumlah korban di pihak Palestina, makin hari makin menambah, serangan berakhir menjelang pelantikan presiden Obama, beberapa waktu lalu. Serangan ini menelan lebih dari 1000 orang korban jiwa, yang di dalamnya tak sedikit korban dari golongan wanita dan anak-anak.

Selama beberapa minggu serangan Israel itu, kecaman mengalir dari berbagai pihak, termasuk PBB, namun semuanya diabaikan oleh pihak Israel, Israel tetap terus memposisikan diri sebagai korban. Mereka menyampaikan bahwa selama ini mereka menjadi korban dari Hamas.

Selama beberapa minggu itupun, umat Islam dimanapun beramai-ramai mengadakan penggalangan bantuan, baik mengadakan demonstrasi, mengadakan shalat gaib, dan lain lain. Bahkan tak hanya umat Islam, di Jepang, tak sedikit NPO yang bergerak untuk mengadakan aksi-aksi penggalangan bantuan.

Di tengah suasana persaudaraan sebagai manusia yang begitu kental terasa, harusnya kejadian ini kembali mengingatkan umat Islam akan satu hal. Bahwa saat ini keadaan umat Islam begitu lemah. Jumlahnya tak sedikit, tapi kekuatannya sangat tak terasa. Yang selama ini kita lakukan untuk palestina tak lebih dari sekedar meringankan beban, kita sama sekali tak punya kemampuan dan kekuatan untuk melindungi saudara-saudara kita di sana. Tapi memang itulah kenyataan, kemampuan yang saat ini kita miliki tak lebih dari itu.

Saya sangat sedih ketika menyaksikan masih banyak terjadi pertengkaran dan perdebatan di antara kita untuk hal-hal yang seharusnya tak perlu dipermasalahkan. Tak sedikit kekuatan umat itu digambarkan sebagai sebuah bangunan. Mengapa? karena banyak hal yang bisa kita pelajari dari sebuah bangunan yang kokoh.

Sebuah bangunan dibuat tidak dari satu jenis bahan melainkan dari berbagai jenis bahan, kita misalkan bangunan itu rumah, kita butuh batu kali untuk dijadikan pondasi, kemudian kita butuh besi untuk rangka, lalu kita butuh batu bata, kita butuh pasir, kita butuh semen, tapi ternyata tak hanya bahan-bahan yang terlihat kuat saja yang kita butuhkan, kita juga butuh air. Untuk terbentuk menjadi sebuah bangunan yang kokoh tentunya setiap bahan yang ada adalah bahan kualitas terbaik.

Tapi bahan-bahan dengan kualitas terbaik saja tak cukup untuk membuat bangunan yang kokoh, diperlukan paduan yang pas diantara bahan-bahan tersebut, artinya disini diperlukan kerjasama yang sinergis, sehingga bahan satu dengan bahan lainnya bisa menjadi saling menguatkan.

Seperti membuat sebuah bangunan, untuk menguatkan umat, kita sebagai individu-individu penyusunnya harus menjadi yang terbaik, artinya siapapun kita maka jadilah yang terbaik dalam bidang kita, kalau kita seorang pelajar maka jadilah pelajar terbaik, yang mengukir prestasi, kalau kita seorang pengusaha, maka kita harus jadi pengusaha terbaik, jika kita seorang pedagang, maka harus menjadi pedagang terbaik, dimanapun kita jadilah yang terbaik karena mejadi seorang profesional di satu bidang hukumnya fardhu kifayah, harus ada diantara kita dalam satu bidang, hingga jumlahnya mencukupi. Tak hanya itu, kita tak boleh lupa bahwa kita menjadi yang terbaik karena ada iman di dalam hati kita. Sehingga menjadi yang terbaik tak hanya dalam bidang kita, tapi juga menjaga dan memelihara iman yang ada di dalam hati menjadi bangian yang penting.

Kemudian, diperlukan sinergi diantara kita, untuk membangun sinergi kita harus belajar penting dari sebuah bangunan, setiap bahan bangunan berada di tempat yang berbeda satu sama lain, sebuah batu kali yang menjadi pondasi tak akan pernah terlihat berada di dalam tanah, rangkaian besi yang menjadi rangka tak pernah terlihat karena menyokong setiap ruas bangunan. Ya, demikian juga kita, harus mempunyai perasaan kuat bahwa kita adalah satu dari bagian bangunan umat ini, kalau kita berada pada tempat kita, maka akan ada yang goyah dari bangunan umat ini, sehingga dimana kita berada itu tak begitu penting. Yang terpenting adalah tetap di tempat kita, menjadi yang terbaik di sana, sehingga terbentuk sinergi yang menguatkan satu sama lain.

Kita juga harus sadar bahwa membuat sebuah bangunan yang kokoh memerlukan waktu yang tidak sebentar, sehingga kesabaran juga menjadi salah satu syaratnya. Kita perbaiki diri kita dari hari ke hari, tak lupa kita buat komunikasi yang baik dengan saudara-saudara kita untuk menjaga tetap terjadinya sinergi diantara kita. Dan kita juga harus menyadari bahwa kita, yang berada dalam lingkungan yang relatif aman, dan terjaga, mempunyai tanggung jawab lebih besar jiak dibandingkan saudara-saudara kita, yang berada dalam keadaan ketakutan, dan ketidakamanan.

Mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan petunjuknya kepada kita semua, sehingga cita-cita besar kita membuat umat ini kokoh bisa tercapai, insyaallah.

wassalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh

4 comments:

namaewadina ~ said...

agak oot, tapi masi nyambung dengan pro-kontra intra muslim. jadi penasaran tentang pendapat pribadi yang punya blog tentang boikot.. ngga keberatan untuk ngeshare? makasi banyak. :)

syafril bandara said...

tentang boikot..saya setuju sekali dengan program ini..tapi saya belum bisa mengajak, karena saya sendiri belum bisa melakukannya secara total. jujur, secara ekonomi kita masih bergantung banyak pada Barat.

tapi saya pikir jangan sampai juga melakukan boikot membuat pengembangan diri kita terhambat. misalnya, dengan boikot, kita ngejual PC kita, handphone kita, dll.. lalu bagaimana kita mau berkembang..

kita harus mengakui kalau kita masih punya ketergantungan, tapi untuk barang-barang yang ada penggantinya kenapa nggak..

namaewadina ~ said...

saya mengasumsikan ini tidak solely berdasar pada himbauan orang lain ataupun emosi semata.. bisa dijelasin sedikit tentang rasionalisasi di balik pendiriannya? tidak ada maksud negatif, hanya murni curiosity :)

aisha chan said...

kebaikan yang tidak teroganisasi akan kalah dengan kejahatan yang terorganisasi, gitu toh?